“Libur sekarang
Nak ?” sapa seorang ibu.
“O...Iya, Buk,”
jawabnya sambil berlalu.
Sudah beberapa
bulan anak ini sebenarnya sudah tidak lagi bekerja, namun dia dipandang sebelah
mata sebagai pengangguran di kampung. Bukan hanya dia tapi setiap orang yang
tidak memiliki pekerjaan, tidak ada dihargai dan diremehkan oleh orang lain.
Begitulah kehidupan di kampung, walaupun sudah sarjana namun percuma rasanya
gelar sarjana yang sudah susah payah didapatkan selama bertahun-tahun. Meski
ujung-ujungnya harus bekerja di kebun dan sawah, percuma kuliah berbagai macam
ilmu akuntansi, manajemen, perbankan, jika harus bekerja di sawah dan ladang.
Walaupun masih bekerja di kampung harus memiliki derjat yang lebih daripada
orang biasa, namun itulah kenyataan pahit yang harus ditelan. Untuk mencari
pekerjaan di kampung memang sulit dan jika dapat peluang pun akan memiliki
saingan dengan ribuan orang.



